“agama itu nasehat, agama itu nasehat, agama itu nasehat”. Para sahabat bertanya,” untuk siapa wwahai Rosulallah?” rosulallah menjawab: ‘untuk Allah, kitab Nya, rosul Nya, imam kaum muslimin atau mukminin, dan bagi kaum muslimin pasa umumnya” 1
Islam menganjurkan umatnya untuk menasihati para imam dan penguasa dengan cara yang terbaik, sebagaimana yang talah diterangkan oleh para Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
Menasihatai penguasa kaum muslim yaitu kita menginginkan kebaikan buat para penguasa . kita ingin mereka berlaku baik, adil, dan lurus. Kita tidak boleh memisahkan diri dari mereka. Tidak boleh menghujat mereka dan tidak boleh memberontak.
Imam Ibnush Shalah mengatakan bahwa maksud dari menasihatai para penguasa kaum muslimin adalah mendatangi mereka lalu menasihati mereka dengan kata kata yang baik. Dan ini tugas ulama
Menasihatai penguasa bukan dangan cara orasi di mimbar mimbar, atau dengan demonsrtasi di jalan jalan, atau dengan cara menghujat mereka. cara ini tidak di benarkan didalam syariat islam. Nabi bersabda:
“barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakannya terang terangan. Hendaknya ia pegang tangannya lalu menyendiri dengan nya. Jika penguasa itu mau dengan nasihat itu, maka itu yang terbaik. Dan bila si penguasa itu enggan (menerimanya), maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kwawajiban nya”2
Sikap ahlus sunnah wal jamaah yang menaati penguasa kaum muslimin serta menasihatinya dengan cara yang baik akan menimbulkan rasa aman.
Rosulallah memerintahkan umatnya agar tetap taat dan patuh kepada penguasa kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan kepada perbuatan mungkar. Dengan sikap seperti ini sifat hasad (dengki) akan sirna dari hati kaum muslimin dan akan tercapai suasana indah dan damai.kita perlu sadari bahwa para penguasa , ulama, rakyat dan masing masing memiliki tugas dan kewajiban. Jiia tugas dan kewajiban mereka tumpang tindih maka akan sangan berpotensi menimbulkan ketimpangan dan kekacauan.
Perlu dikatahui bahwa baiknya penguasa berarti baik pula keadaan rakyat, penguasa adalah cerminan keadaan rakyat. Jika rakyatnya baik, maka baik pula penguasanya dan sebaliknya.
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah mengatakan “renungilah hikmah Allah yang telah menjadikan ( perbuatan ) para Raja, pemimpin dan pengayom masyarakat serupa dengan perbuatan masyarakat. Bahkan amal perbuatan mereka seakan akan tercermin pada pemimpin mereka. Jika masyarakatnya istiqomah, maka penguasa mereka istiqomah. Jika mereka adil maka penguasapun berlaku adil. Jika mereka dzalim maka akan dzalim pula penguasanya dan pemimpin mereka. Jika tipu muslihat tersebar di tengah tengah mereka maka demikian pula yang terjadi pada pemimpin mereka. Jika mereka enggan mengeluarkan atau menunaikan apa yang menjadi hak Allah, maka para penguasa dan pemimpin mereka pun akan enggan memberikan hak hak rakyat pada mereka. Dan jika dalam muamalah mereka mengambil sesuatu yang bukan hak mereka dari orang orang lemah, maka para pemimpin akan berlaku demikian dan akan membebani mereka berbagai kewajiban.
Dari perkataan Ibnu Qayyim al Jauziyyah dapat disimpulkan bahwa amalan perbuatan mereka akan tercermin kepada para pemimpin dan penguasa mereka. Dan bukankah hikmah ilahyyaah, sesorang yang di angkat untuk memimpin orang keji lagi jahat kecuali orang orang yang serupa dengan mereka.
Seperti contoh bahwa ketika generasi terbaik, para sahabat dan para tabiin. mereka dipimpin oleh pemimpin yang baik seperti Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Umar Bin Abdul Azis. Pemimpin pemimpin yang terbaik ini adalah sesuai dengan keadaan orang orang yang dipimpin. Masing masing konsekwensi ini adalah tuntutan hikmah Allah.3
Dan perlu di ingat, apabila keadaan kita masih jauh dari kebenaran maka jangan bermimpi bisa mendapatkan pemimpin seperti Umar Bin Abdul Azis dan Mu’awiyyah apalagi seperti Abu Bakar Ash Shiddiq atau Umar Bin Al-Khathab.syariat islam mengajarkan kepada kita, jika ingin mendapatkan pemimpin yang baik maka kita mesti memperbaiki keadaan kita Seperti firman Allah yang artinya
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri…”(QS.ar-Ra’d/13:11)
Dan perlu di ingat bahwa untuk mendapatkan pemimpin yang baik harus bersabar dan yakin dengan firman Allah yang artinya
“Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka bersabar dan meyakini ayat ayat kami.” (QS. As-Sajdah/32:24)
Nabi SAW telah mengabarkan tentang kedatangan penguasa penguasa zhalim kepada rakyat nya dan hanya mengutamakan diri-diri mereka sendiri. Namun meski demikian nabi SAW tetap memerintahkan untuk bersabar, walaupun para penguasa itu memukuli dan menyiksa. Islam tidak pernah mengajarkan demonstrasi dan pemberontakan.
Copas dari majalah as-Sunnah no 01 thn XV, jumadil akhir 1432H/ Mei 2011M di tulis oleh Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizallah. Dalam artikel WASIAT NABI S.A.W UNTUK MENUNTUT ILMU, MEMBERSIHKAN HATI DAN ZUHUD DI DUNIA.
REFRENCE
1 HR.Muslim (no 55(95)), Abu Dawud (no 4944), an Nas’I (VII/156-157), Ibnu Hibban (ta’liqatul hisan ala shahih Ibni Hibban no. 4555), Ahmad (IV/102-103), al-Baihaqi (VIII/163), dan lafaz ini milik Ibnu Hibban dan Ahmad dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-dari ra.
2 HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-sunnah(II/507-508, bab Kaifa Nashihatur Ra’iyyah lil Wulat, no 1096, 1097, 1098), Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/209 dari ‘iyadh bin Ghunm ra
3 Miftah Daris Sa’adah (II/177-178), Imam Ibnu Qayyim, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali al-Halabi
EDITOR:: Agus Candra
Ditulis oleh rohissmandu
Di detik pertama saya melihat dunia, Bunda tahu bahwa saya sangat ketakutan mendapati dunia yang berbeda dari kehidupan indah sebelumnya di dalam rahim Bunda. Saya menangis sekuat-kuatnya untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar takut dan takkan mampu hidup sendiri dalam kondisi yang sangat lemah. Tapi ketika itu pula, Bunda tahu ketakutan yang saya rasakan. Ia merapatkan tubuh ini ke tubuhnya, menyodorkan air murni kehidupan dan mengusapkan jari lembutnya di punggung kecil ini. Hangat kecupnya terasa di kening seraya berucap, “Jangan takut nak, Bunda kan selalu menemanimu sampai kapan pun”





